Tampilkan postingan dengan label elegi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label elegi. Tampilkan semua postingan
e-one ashmara

bisu ....
sepi tanpa suara
sepi tanpa kata
juga tanpa nada

bisu ....
selalu hening
senantiasa diam

bisu ....
penuh isarat
bermain dengan sandi
hanya gerak bola mata berkata kata

dalam kebisuan,
aku tak mampu mengisyaratkan
aku tak mampu menyampaikan maksud
hanya hati bergolak tuk berkata
tapi aku tak mampu

mampunya ...
aku hanya membisu
hanya berkata dalam hati
tanpa arti bagi mereka
akhirnya aku pergi
dalam kebisuan
chaz040809
Label: 0 komentar | | edit post
e-one ashmara
Gelap kelam menyelimuti siang
Angin kencang meruntuhkan dedaunan
Tak pelak halilintar,
Sambung menyambung memecahkan gendang telinga

Dikamar ini,
Aku duduk dalam kegelapan
Dalam kesendirian
Mendengarkan symphoni alam
Tak bergeming

Suasana ini,
Seperti pernah ku alami
Tapi kapan dan entah dimana

Hatiku bergetar,
Mengingat peristiwa ini
Namun akal dan daya ingatku
Tak mampu mengulang masa lalu

Dalam kesendirian,
Aku teringat kepadaMU
Aku teringat akan murkaMU

Diri ini telah lama,
Tak sujud kepadaMU
Tak pernah bersimpuh lagi memohon padaMU
Aku lalai,
Aku telah jauh meninggalkanMU

Derita ini yang membuat aku lupa padaMU
Sengsara ini yang membuat aku jauh dariMU
Dan,
Kesendirianku ini yang telah meinggalkanMU

Ya ..... Tuhanku,
Tuhan yang telah menciptakanku
Tuhan yang memberikan nafas padaku
Dan engkau jua yang telah mendenyutkan jantungku

Dalam kesunyian dan kesendirian ini,
Aku teringat padaMU
Aku sujud memohon ampunan
Aku bersujud meminta kerelaan

Semoga,
symphoni alam ini
Akan membawaku kembali
Tawaqal dan taat padaMU
Kembali,
Bersujud dan berdoa padaMU

Semoga,
symphoni alam ini
Menguatkan hatiku
Menguatkan jiwaku
Tuk tetap berada di jalanMU

-chaz131208-
Label: 0 komentar | | edit post
e-one ashmara
Pagi masih begitu muda,
Embun masih membasahi dedaunan
Dingin masih tajam menusuk tulang

Derap tapak kaki,
terseret lunglai enggan melangkah
antara letih dan beban
memaksa mata tuk menyala

Dipundak kanan tersandang Sapu lidi
Tangan kiri menggenggam kantong usang dan kumuh
sementara topi jerami penutup kepala
dari embun dan teriknya mentari

Kau begitu tegar,
menyongsong hari demi sesuap nasi
membesarkan anak-anakmu,
yang hanya mampu meminta dan mengharap

Kau sapu tiap lorong dan jalan
dari kotoran dan debu jalanan
Kau pungut apa yang berharga bagimu
walau tak berarti bagi mereka

Ketika mentari mulai tegak
kau sembunyikan kepala dari sengatannya
tak kau hiraukan debu-debu menyapu wajah
tak kau hiraukan keringat mengering dibadan

Saat senja mulai merayap,
kau langkahkan kaki menahan lelah
ada ceria dan gundah
saat menatap wajah-wajah mungil,
menantimu penuh harap

Tak terasa,
tetes air bening,
meluncur tak terbendung
menyaksikan mereka memeluk perut
meringis menahan lapar

Disudut teras beralas kardus,
Istrimu gundah menanti kabar
tak mampu lagi menahan tangis
menatap anak-anak menyambut pulangmu

Ketika malam mulai merambat
kau tatap tubuh-tubuh mungil tertidur pulas
wajah-wajah suci mereka tanpa dosa
tidur dalam buaian mimpi esok hari
dalam pelukan ibunya

Kau tengadahkan wajah kelangit-langit kamar
terbersit doa,
terbersit harapan,
agar esok mampu membahagiakan mereka
agar esok mampu membuat mereka ceria
walau kaki dan tubuh terbakar terik mentari
amin ......
(chaz291108)
Label: 0 komentar | | edit post