Tampilkan postingan dengan label prahara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prahara. Tampilkan semua postingan
e-one ashmara
suara saluang mengalun sendu
menemani sang bocah yang duduk termangu
menatap sedih puing reruntuhan
dimana dulu tempat ia berteduh

diantara reruntuhan itu
pernah terkubur kaku seorang ibu
ketika gempa mengguncang,
ibu yang dikasihi,
ibu yang satu-satunya sisa keluarga
sejak ayah pergi diusianya beranjak tiga tahun

dia yang sedang mengaji
ketika gempa mengubur sang bunda,
akhir dari perpisahan
tanpa pesan dan tanda kasih sang ibu

bathinnya menjerit
merintih dalam kesendirian,
sejak prahara itu,
ia tak mampu lagi menangis
air mata telah terkuras habis
hanya air mata bathin tak henti mengucur
bersama keringnya pusara bunda

malam berteman bintang dan embun
ketika siang bermandi keringat terbakar mentari,
tak ada tempat lagi tuk berteduh
tak ada sanak saudara lagi tuk mengadu

bencana itu telah berlalu
namun,
penderitaannya baru dimulai,
mampukah ia tuk menjalani kehidupan ini
tanpa kasih sayang
tanpa nasihat ?
hanya Tuhan yang mampu membimbing hidupnya
melalui hari-hari dalam kesendirian
~~chaz 05102009~~
e-one ashmara
Laut yang tenang itu ...
tiba-tiba bergolak
mengamuk ....
menciptkan buih2 putih
dibawah gelap kelam awan
dan halilintar yang sambung menyambung

Bidukku terombang ambing
dihantam amukan ombak
sementara diluar,
kilat menyambar disisi biduk
aku terjebak dalam prahara ini

Jerit tangis anak2 ketakutan
jerit histeris sang ibu mendekap buah hatinya
riuh rendah dalam kekalutan
berbaur dengan dentuman halilintar
dan kilat yang tak henti hentinya

Suasana tegang dalam bidukku
puluhan pasang bibir memanjatkan doa
teriakan pilu memanggil namaMu
mengharap dan memohon,
Datangnya pertolonganMU

Aku tegang dalam ketakutan
aku terdiam dalam pucat pasi
degub jantung kian berpacu
bersama olengnya bidukku

Terbayang wajah ibu,
terbayang wajah istri dan anakku
terbayang akan dosa2 yang belum terhapuskan
aku terdiam,
akupun pasrah dalam prahara
dan bait-bait doa terus meluncur dari bibirku

Amukan ombak kian meraja
percikan air terus menyimbah
bidukku oleng menciutkan hati
jerit tangis tak juga henti
menggetarkan hati sanubari

Perlahan,
semua berangsur teduh
amukan ombak mulai mereda
jerit tangis tinggal sedu sedan
beberapa pasangan bibir masih berkomat kamit
ucapan puji syukur membahana
menghiasi wajah2 pucat pasi
termasuk diriku

Prahara ini,
membuatku ciut,
mengubah jalan hidup
menuju kebenaran mencari ridhoMU

Terima kasih Zat yang Maha Kuasa
terima kasih atas peringatanMU
KAU ubah jalan hidupku
amin .....

chaz130709
e-one ashmara
Aku bagai kembara
Menyusur hari tanpa tujuan
Menapak lunglai,
Antara kerikil dan belukar
Hingga tak kuhirau luka menggores kaki

Hidupku bagai tiada arah
Menahan lapar dan dahaga
Penuh rindu tanpa cinta

Ribuan langkah telah ku tempuh
Tetap,
Tanpa arah

Rinduku masih terpendam dijiwa
Namun,
Tiada cinta bertahta dihati

Nun jauh disana,
Ada cinta yang senantiasa menantiku
Tapi,
Hanya cinta sepenggal kata
Hanya sayang seulas senyum
Tapi,
Hatiku tak pernah bahagia

Disini,
Dalam hidup tanpa arah,
Aku bahagia,
Tak ada luka,
Tak ada duka,
Yang menggores hari-hariku

Biarlah kubawa diri ini
Walau tanpa arah,
Tapi aku tetap bahagia
Dalam jiwa kosong dan hampa

-chaz261008-
e-one ashmara
Mentari hangat sepenggal galah,
menyapa pagi dengan getir
mengintip diselah selah awan yang kelam
seakan ingin menyampaikan pesan alam

Ketika bumi bergetar hebat
menggegarkan hingga ke dalam raga
di kejauhan laut nan luas
deburan ombak laksana
jutaan hewan liar yang berlari,
mengejar pantai,
mendekat dan kian membesar
siap menerkam bocah - bocah yang tertawa
riang berebut memungut isi laut,
di pantai yang surut

Di hujung perkampungan,
riuh rendah suara jeritan
antara langkah-langkah yang gemetar
menyambar setiap harta dan keluarga
namun bencana lebih perkasa
menyapu apa yang menghadang.

Jerit tangis tersendat di hujung dada
dan tubuh-tubuh kecil hanyut tak berdaya
bersama arus menghadap yang kuasa.

Bencana bagaikan mimpi
sekelip mata, semua rata terbawa air
beberapa pasang mata memandang iba
menatap raga,
berayun-ayun menghantam puing pepohonan.

Tuhan ...
begitu cepat kau musnahkan mereka
begitu cepat kau hancurkan semua.

di mana ayah ku...
di mana ibu ku ...
di mana kakak ku ...
dan dimana adik ku ...

Tuhan ...
kutukan apa yang kau turunkan pada kami
hingga kau musnahkan semuanya.

Tidak Tuhan ...
Tidak ...